Ambisi Besar Masayoshi Son: SoftBank Incar Akuisisi Perusahaan Data Center Switch

Bos SoftBank, Masayoshi Son, sedang mempertimbangkan untuk mengakuisisi operator data center Switch.

Diterbitkan 15 Desember 2025, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - SoftBank Group dilaporkan tengah gencar mencari peluang akuisisi besar, termasuk operator data center Switch. Langkah strategis ini diambil langsung oleh sang pendiri dan miliarder, Masayoshi Son, sebagai upaya untuk ikut berperan penting dalam lonjakan pesat infrastruktur digital yang didorong oleh Kecerdasan Buatan (AI).

Dikutip dari The Japan Times, Senin (15/12/2025), menurut sumber yang mengetahui masalah ini, perusahaan raksasa asal Jepang tersebut telah melakukan diskusi dengan pimpinan Switch dan saat ini sedang melakukan uji tuntas (due diligence) terhadap perusahaan yang masih tertutup (non-publik) tersebut.Jalur Cepat Kuasai 'Leher Botol' AI

Keputusan Masayoshi Son untuk memburu Switch ini muncul di tengah upayanya mencari cara agar SoftBank memainkan peran yang lebih besar dalam perlombaan AI global. Perlombaan ini sebelumnya telah melambungkan Nvidia, mitra bisnis lama SoftBank, menjadi perusahaan paling berharga di dunia.

Switch dikenal sebagai spesialis dalam merancang dan mengoperasikan data center yang hemat energi. Akuisisi terhadap perusahaan ini diyakini akan membantu Masayoshi Son mengendalikan salah satu 'leher botol' atau kendala kunci dalam pengembangan AI saat ini.

Selain Switch, SoftBank juga dikabarkan telah melakukan pembicaraan lanjutan mengenai potensi pembelian salah satu pemodal utama Switch, yaitu DigitalBridge Group, perusahaan investasi yang terdaftar di New York.Valuasi Fantastis: Rp 800 Triliun

Para pemilik Switch disebut-sebut sedang mencari valuasi sekitar USD 50 miliar (sekitar Rp 800 triliun, kurs Rp 16.000) termasuk utang, untuk operator data center tersebut dalam setiap kesepakatan akuisisi.

 

Rencana IPO

Namun, di saat yang sama, pemilik Switch juga dikabarkan sedang bersiap untuk kemungkinan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) secepatnya pada awal tahun depan. Jika lewat jalur IPO, para pemodal ini menargetkan valuasi sekitar USD 60 miliar (sekitar Rp 960 triliun) termasuk utang.

Sebagai informasi, konsorsium yang dipimpin oleh DigitalBridge dan manajer infrastruktur Australia, IFM Investors, membeli Switch pada tahun 2022 dalam kesepakatan yang kala itu bernilai USD 11 miliar termasuk utang.Respons Pasar dan Strategi SoftBank

Meskipun tim SoftBank dikenal sering menganalisis banyak potensi kesepakatan sebelum memutuskan satu transaksi, mengakuisisi Switch akan memungkinkan SoftBank memiliki portofolio besar data center secara penuh. Ini adalah aset yang sangat berharga di saat permintaan daya komputasi meningkat pesat seiring booming AI.

Langkah ini juga sejalan dengan strategi yang sudah digulirkan. Meski terlambat dalam reli global yang menempatkan Nvidia dan OpenAI di garis depan, SoftBank telah mengumumkan banyak langkah besar di arena AI tahun ini:

  • Proyek Stargate: SoftBank meluncurkan proyek data center Stargate senilai USD 500 miliar bersama OpenAI, Oracle, dan MGX Abu Dhabi di Amerika Serikat.
  • Akuisisi Besar: Baru-baru ini, SoftBank membeli perancang chip AS Ampere Computing senilai USD 6,5 miliar dan berkomitmen sekitar USD 30 miliar kepada pengembang ChatGPT, OpenAI.
  • Penguatan Aset: Untuk mendanai ekspansi ini, SoftBank telah melepas seluruh kepemilikan sahamnya di Nvidia dan memperluas pinjaman margin menggunakan saham Arm Holdings miliknya. Unit telekomunikasi SoftBank di Jepang juga meningkatkan pengeluaran untuk data center mereka di dalam negeri.

 

Tidak Ada Jaminan

Meskipun pembicaraan SoftBank dengan Switch belum mencapai kesepakatan final, dan tidak ada jaminan transaksi akan terjadi, potensi akuisisi Switch ini akan menjadi salah satu kesepakatan terbesar SoftBank jika terealisasi.

Perwakilan SoftBank, Switch, dan DigitalBridge menolak berkomentar mengenai kabar akuisisi ini. Namun, investor SoftBank telah merespons positif berbagai pengembangan ini, terlihat dari harga saham perusahaan yang hampir melonjak dua kali lipat tahun ini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6