Burung-Burung Liar Berlindung di Kampus IPB Dramaga

Tumbuhnya perkotaan membuat habitat alami berubah menjadi struktur antropogenik dan permukaan tanah yang kedap akan air.

Diperbarui 25 Mei 2025, 00:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tumbuhnya perkotaan membuat habitat alami berubah menjadi struktur antropogenik dan permukaan tanah yang kedap akan air. Satwa liar, termasuk burung dipaksa untuk beradaptasi atau menghindar dari perubahan ini, yang mengakibatkan kehilangan spesies dan beberapa spesies yang bertahan dapat berkembang lebih banyak.

Tidak dipungkiri bahwa jumlah populasi manusia yang semakin meningkat, membuat ancaman pembangunan bagi burung semakin mengkhawatirkan.

Habitat perkotaan mungkin tidak menjadi penghalang bagi satwa liar seperti burung namun membuat populasi pada beberapa spesies terjebak karena tidak mampu untuk bergerak bebas atau berdistribusi, khususnya pada jenis burung berukuran kecil yang membutuhkan tumbuhan atau pohon sebagai jalur untuk terbang dan beristirahat.

Pada beberapa kota di dunia, seperti di Singapura, menjadi salah satu contoh di mana pembangunan kota yang masif, namun  masih mempertahankan keanekaragaman burung. Dengan luasan sekitar 257 Ha, Singapura menyimpan 365 jenis burung dengan 25 jenis burung terancam punah (Vulnerable, Endangered, Critically Endangered).

Sekitar 12 km dari pusat Bogor, terdapat wilayah hijau yang terisolasi dan terfragmentasi, namun pada saat yang sama menjadi satu-satunya sisa habitat yang baik di kawasan yang sekitarnya tingkat pembangunan tinggi, yaitu di Kampus IPB Dramaga.

Kampus IPB Dramaga terbentuk sekitar tahun 1960an. Sebelum pembangunan, vegetasi di kawasan ini didominasi tanaman karet yang sudah ada pada zaman kolonial. Selain itu vegetasi asli lainnya adalah jenis bambu, dan tumbuhan alami, seperti jenis rumput, perdu, dan semak yang ada di daerah riparian Sungai Ciapus, Sungai Cihideung, dan Sungai Cisadane.

Menurut Abdul Haris Mustari, dosen dari Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB dalam bukunya yang berjudul Biodiversitas di Kampus IPB University: Mamalia, Burung, Amfibi, Reptil, Kupu-kupu dan Tumbuhan, mengatakan bahwa habitat yang ada di lingkungan kampus IPB Dramaga merupakan gabungan habitat alami dan habitat yang telah dimodifikasi manusia.

“Habitat alam terjadi karena jenis tumbuhan maupun bentang alam yang ada terbentuk secara alami, sedangkan habitat modifikasi terbentuk karena pembangunan dan jenis tumbuhan yang ada ditanam dengan sengaja untuk menghijaukan kampus,” ujar Haris.

Berdasarkan data biodiversitas kampus yang dikumpulkan oleh Abdul Haris Mustari yang dibantu oleh mahasiswa dan kelompok pengamat burung Himakova selama 20 tahun terpantau 99 jenis burung.

Sedangkan data dari e-Bird -suatu basis data online untuk  distribusi dan kelimpahan burung dari ilmuwan, peneliti, dan pengamat alam amatir- dari tahun 1982 terpantau 100 jenis termasuk 5 jenis eksotik. Bila kedua data digabungkan, total ada 131 jenis burung dengan 5 jenis eksotik. Di antara 131 jenis burung, ada 10 jenis yang masuk dalam daftar merah IUCN (6 jenis Near Threatened dan 4 jenis  Vulnerable).

 

Kampus IPB menjadi lokasi berbiak dan lokasi bermigrasi

Kampus IPB bisa dikatakan menjadi salah ruang terbuka hijau (RTH) dan koridor untuk konektivitas habitat hijau yang ada di Bogor, termasuk di dalamnya zona riparian atau zona transisi antara perairan dan darat yang menyediakan tempat untuk berlindung atau makan dan menciptakan ruang hijau.

Zona riparian yang ada di Bogor dapat bertindak sebagai koridor ekologis yang mengimbangi efek fragmentasi lanskap yang menghubungkan petak-petak habitat yang terisolasi (misalnya, lahan pertanian, rumah, kebun, taman). Daerah riparian menyediakan makanan dan perlindungan bagi spesies burung dan berfungsi sebagai koridor kolonisasi dan penyebaran di mana burung dapat menyebar dari koridor riparian ke  ruang hijau yang berdekatan.

Tingginya keanekaragaman jenis burung dikarenakan beranekaragamnya habitat di kampus IPB yang pada akhirnya memberikan pakan yang beraneka untuk burung di dalam kampus.

Setidaknya ada 18 lokasi di dalam kampus IPB yang digunakan untuk burung, di antaranya  di Arboretum Bambu, Tegakan Pool Bus-FEM Baru, Komplek Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan, Habitat Sempadan Sungai (Riparian), Laboratrium Satwa Harapan, Biofarmaka, Taman Hutan Kampus Cikabayan, Kebun Sawit, Tegakan Karet, Komplek Kendang Rusa dan Riparian, Perumahan Dosen, Hutan Belakang Masjid Al-Huriyyah, Kandang Primata PSSP, Asrama Putri dan Gymnasium Baru, Arboretum Fahutan, Taman Konservasi dan Taman Rektorat, Danau LSI, dan Kompleks Gedung FMIPA Biologi-Faperikan-Fapet-FKH.

Beranekaragamnya habitat di dalam kampus, menjadikan kampus IPB sebagai lokasi berbiak dan bermigrasi untuk burung. Temuan dari Hidayat dkk dalam jurnal terbaru tahun 2024 yang berjudul “The Effect of Lockdown During the Covid-19 Pandemic on Bird Species Richness at IPB Dramaga Campus “, mengungkapkan melalui metode mist netting, bahwa ada tiga jenis burung yang sedang berbiak melalui penangkapan burung yang diamati bagian tubuh saat mengerami (broodpatches).

Jenis burungnyaa yaitu cinenen jawa (Orthotomus sepium), pelanduk topi-hitam (Pellorneum capistratum), dan caladi tilik (Picoides moluccensis).

Sedangkan melalui metode pengamatan, ditemukan tujuh jenis burung yang menggunakan kampus IPB sebagai tempat pemberhentian sementara (stopover) atau jalur migrasi (migration flyway), di antaranya elang-alap nipon (Accipiter gularis), elang-alap cina (Accipiter     soloensis), sikep-madu asia  (Pernis  ptilorhynchus),  alap-alap kawah  (Falco  peregrinus  calidus),  cekakak belukar  (Halcyon smyrnensis),  kowak melayu  (Gorsachius  melanolophus),  dan bubut-pacar jambul (Clamator coromandus).

Keanekaragaman burung untuk mencari makan dan bersarang sangat erat hubungannya dengan struktur habitat yang pada akhirnya dapat menyediakan makanan dan juga tempat berlindung. Jenis tumbuhan yang paling banyak ditemukan di kampus IPB di antaranya jenis Litsea  sp.,  Trachylobium sp,  Calophyllum  soulatri,  Melia excelsa, Dracontomelon dao, Khaya grandifolia, Strombosia zeylanica, Maesopsis eminii, Terminalia superbadan,  Pinus  merkusii,  Delonix  regia,  Ceiba  pentandra, Alstonia scholaris, Shorea leprosula, Nephelium lappaceum, Evodia aromatic, Bambusa spp. dan Paraserianthes falcataria.

Melihat data di atas, para konservasionis dan perencana kota memiliki peranan penting untuk masa depan. Tindakan yang dapat memberikan dampak positif yang besar bagi komunitas burung, di antaranya tetap menyediakan area ruang hijau kota yang dikelola dengan baik melalui penanaman flora asli, menambah ruang hijau kota, dan pembatasan pembangunan pada area hijau.

Haris menambahkan bahwa semakin berkembangnya permukiman dan berbagai aktivitas manusia yang semakin intens di luar kampus IPB, maka ruang terbuka hijau yang dimiliki kampus IPB semakin memegang peran penting untuk konservasi biodiversitas untuk burung.

“Segenap sivitas akademika IPB harus menyadari bahwa kampus ini berperan penting dalam menjaga biodiversitas dan RTH.  Biodiversitas burung sejatinya ada di sekitar kita, termasuk kawasan kampus, karena itu perlu kesadaran para pihak untuk menjaga RTH yang masih tersisa ini”, jelas Haris.

Menurutnya, pihak kampus dalam pembangunan fisik hendaknya juga mempertahankan lanskap alami kampus, yang merupakan gabungan lanskap datar, bergelombang, dan terjal, yang kaya akan biodiversitas. Selain itu, rawa, danau, aliran air, sungai, perlu dijaga keberadaannya.

Termasuk, tumbuhan alami tidak dibabat dan digantikan dengan tumbuhan jenis tertentu yang cenderung monokultur.  Kunci keanekaragaman jenis satwaliar/burung adalah keanekaragaman lanskap, tipe habitat, dan jenis tumbuhan.

Fransisca Noni