Liputan6.com, Norwegia - Masih teringat jelas di benak masyarakat bencana tsunami yang berhasil memporak-poranda Banda Aceh pada 2004 silam. Peristiwa mengerikan itu rupanya juga pernah terjadi di Norwegia jauh sebelum Indonesia yakni sekitar tahun 1934.
Kala itu kawasan Geiranger Fjord, Norwegia diserbu reruntuhan batuan tebing akibat diterjang air dengan ketinggian lebih dari 250 kaki. Saking dahsyatnya, bencana alam tersebut kabarnya menelan korban jiwa sebanyak 40 orang sekaligus menghancurkan daerah sekitarnya.
Berdasarkan peristiwa tersebut, pembuat film memutuskan mengangkat kisahnya ke dalam sebuah film layar lebar berjudul The Wave. Dalam film besutan sutradara Roar Uthaug ini, penonton akan diajak merasakan suasana mencekam saat terjebak dalam bencana tsunami.
Baca Juga
Advertisement
Untuk itu, The Wave mencoba mempresentasikannya lewat perjuangan Kristian untuk menyelamatkan dirinya serta anak dan istrinya, Anna dari terjangan tsunami hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Kabarnya untuk membuat adegan tsunami tersebut membutuhkan lebih dari 40.000 liter air setiap hari.
Peristiwa bermula ketika Kristian yang berprofesi sebagai geologis dan rekan kerjanya mendeteksi sesuatu yang aneh dari gunung Arkeneset. Aktifitas janggal yang akan menyebabkan tsunami terulang lagi setelah beberapa tahun sebelumnya telah menyerang Norwegia.
Film ini dilaporkan telah sukses menarik perhatian dari sejumlah festival film di seluruh dunia bahkan sudah menjadi official submission untuk Best Foreign Film di 2016 Academy Awards. The Wave dijadwalkan akan resmi dirilis secara serentak pada 30 Desember 2015 mendatang.
Tak hanya itu, The Wave mengemas acara penayangan perdananya pada 17 Desember 2015 esok dengan menarik. Sesuai dengan isi filmnya yang bertemakan bencana alam, seluruh hasil penjualan tiket rencananya akan didonasikan kepada Borneo Orangutan Survival Foundation untuk penanaman hutan dan pembangunan babyhouse orangutan di Kalimantan Tengah. (Eka/fei)