Liputan6.com, Jakarta Beberapa orang mempunyai keyakinan yang menakutkan, serangga telah menginvasi tubuh mereka meskipun bukti medis tidak menunjukkan apapun. Sebagian orang percaya, apa yang dialami termasuk efek samping dari penggunaan narkoba.
Baca Juga
Advertisement
Delusi serangga dapat terjadi tanpa adanya kondisi lain, yang dikenal sebagai bentuk primer, somatik subtipe atau sekunder untuk berbagai kondisi lain seperti skizofrenia, gangguan perasaan, demensia, dan penyakit medis lain.
Orang dengan gangguan primer tidak memiliki delusi atau gangguan pikiran layaknya orang dengan skizofrenia.
Jika mereka mengalami halusinasi berupa melihat, mendengar atau merasakan hal-hal lain tidak bisa, maka hal ini hanya berkaitan dengan keyakinan yang dipercayai masing-masing orang, seperti melihat serangga pada kulit mereka.
Delusi berkembang
Delusi berkembang
Menurut entomologi dari Jeffrey Lockwood, merasa jijik atau takut serangga dapat mengganggu kesehatan dan penyebaran penyakit. Takut terhadap serangga memang bisa memberikan keuntungan bagi individu karena membantu seseorang bertahan hidup.
Jeffrey mengatakan, orang yang terkena delusi serangga berpikiran, serangga dapat mengancam karena serangga berkembangbiak dengan cepat, bergerak secara tak terduga, dan dapat hidup di dalam tubuh.
Bila terkait dengan delusi, para peneliti menyarankan, adanya keterlibatan aktivitas dopamin (neurochemical yang dilepaskan otak), sensitivitas kulit, daerah otak tertentu dan faktor psikologis.
Advertisement
Cara mengatasinya
Cara mengatasinya
Psikiater cenderung meresepkan obat antipsikotik untuk mengobati kondisi tersebut. Obat antipsikotik bertujuan mengobati berbagai gangguan psikotik, termasuk skizofrenia dan mengurangi kekuatan khayalan dan kesulitan akibat terkena delusi, seperti dikutip dari The Conversation, Kamis (16/2/2017.
Selama sementara waktu, dokter merekomendasikan pimozide antipsikotik. Namun, obat ini punya efek samping sehingga dalam perjalanannya meresepkan berbagai antipsikotik yang berbeda, tergantung bagaimana gejala akut yang muncul, kondisi tubuh seseorang, dan kesulitan medis lainnya.
Beberapa penelitian menemukan, obat antipsikotik meningkatkan atau menghentikan gejala sebanyak 60-10 persen kasus. Beberapa laporan kurang berhasil karena para peneliti belum tahu seberapa efektif obat dapat manjur.
Dari studi kasus yang dipublikasikan, peneliti tidak selalu melaporkan, bagaimana konsumsi obat pada pasien, seperti jika terkena efek samping tapi sangat sedikit yang mengatakan, apakah kualitas hidup dapat membaik atau bagaimana jika mereka kembali delusi setelah minum obat.
Perawatan secara psikologis
Perawatan secara psikologis
Penelitian jarang mengacu pada perawatan psikologis untuk delusi. Hal ini bisa disebabkan sifat dari gangguan karena pasien sering membantah terkena gangguan psikologis sehingga menolak perawatan psikologis.
Terapi perilaku kognitif, yang menitikberatkan pada pikiran dan perilaku didukung obat menjadi pengobatan populer dan efektif untuk gangguan psikotik. Hal ini mengurangi tingkat kepercayaan orang terhadap delusi yang dialaminya.
Advertisement