Liputan6.com, Jakarta - Tim keamanan Google baru saja mengungkap daftar smartphone Android yang memungkinkan peretas mengambil alih perangkat tersebut.
Artikel tentang celah keamanan di sistem operasi Android dan mempengaruhi deretan smartphone merek kenamaan tersebut menjadi yang terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com, Senin (7/10/2019) kemarin.
Informasi lain yang tak kalah populer datang dari diungkapnya Country Director Xiaomi Indonesia baru, dan jumlah aplikasi Android yang memata-matai pengguna.
Baca Juga
Advertisement
Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler berikut di kanal Tekno Liputan6.com ini.
1. Google Ungkap Celah Keamanan di Android
Tim keamanan Google Project Zero baru saja mengungkap daftar smartphone Android dengan kerentanan dan celah keamanan, yang memungkinkan peretas mengambil alih perangkat tersebut.
Dikutip dari The Verge, Senin (7/10/2019), celah keamanan ini ditemukan di sejumlah merek smartphone Android populer, seperti Samsung, Huawei, termasuk Google Pixel.
Menurut juru bicara Android, celah keamanan ini dapat diakses peretas apabila korban memasang aplikasi berbahaya terlebih dulu. Lalu, peretas dapat mengirimkan serangan lain lewat program seperti peramban.
2. Xiaomi Indonesia Tunjuk Alvin Tse Jadi Country Director
Xiaomi baru saja mengumumkan perubahan dalam tampuk kepemimpinan perusahaan di pasar Indonesia. Lewat perubahan ini, Xiaomi resmi mengangkat Alvin Tse sebagai Country Director Xiaomi Indonesia, menggantikan Steven Shi
Adapaun pengangkatan ini dilakukan untuk memperkuat struktur kepemimpinan di Indonesia, yang menjadi salah satu pasar utama bagi Xiaomi. Langkah ini sekaligus upaya untuk meningkatkan strategi ekspansi global perusahaan.
Nantinya, Alvin akan memimpin pengelolaan operasional Xiaomi di Indonesia secara penuh. Sebelumnya, dia lebih dikenal memimpin lini bisnis smartphone Poco.
3. 37.000 Pengguna Terkena Aplikasi Mata-Mata pada 2019
Dari Januari hingga Agustus 2019, pengguna yang setidaknya menghadapi satu kali upaya instalasi spyware komersial yang sering digunakan sebagai alat untuk mata-matadomestik atau dikenal sebagai "stalkerware", telah melampaui 37.000 pengguna.
Angka ini meningkat 35 persen, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018. Terlebih lagi, lansekap ancaman untuk stalkerware juga semakin meluas karena Kaspersky telah menemukan 380 varian stalkerware tersebar luas pada tahun 2019--31 persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Temuan ini merupakan sorotan utama dari laporan bertajuk Kaspersky's The State of Stalkerware 2019. Stalkerware dapat menyusup ke perangkat seseorang dan memata-matainya.
(Ysl/Isk)
Advertisement