PAN: Anggaran Program Penggerak Digunakan Saja untuk Subsidi Internet Siswa

Menurut Daulay, para orang tua semakin gelisah lantaran ada beberapa sekolah tetap beajar tatap muka meski pandemi Covid-19 masih ada.

oleh Delvira Hutabarat diperbarui 28 Jul 2020, 10:15 WIB
Siswa sekolah dasar belajar online menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meetings di Pamulang Tangerang Selatan, Kamis (2/4/2020). Gelombang work from home (WFH) membuat kebutuhan terhadap aplikasi video conference meningkat saat pandemi Corona Covid-19. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Jakarta - Plh Ketua Fraksi PAN DPR RI Saleh Partaonan Daulay menyebut proses belajar mengajar selama pandemi Covid-19 belum ideal bagi siswa. Kemendikbud dinilai tidak berperan lantaran sistem belajar ditentukan masing-masing sekolah.

"Masing-masing sekolah seakan-akan menentukan dan mendesain sendiri pola belajar yang diterapkan," kata Saleh, Selasa (28/7/2020).

Apalagi menurut Daulay, para orang tua semakin gelisah lantaran ada beberapa sekolah tetap beajar tatap muka meski pandemi Covid-19 masih ada.

“Kegelisahan orang tua siswa terkait pelaksanaan proses belajar mengajar di masa pandemi covid-19 ini semakin tinggi. Di satu sisi, mereka ingin agar anaknya segera bisa kembali belajar di sekolah sebagaimana biasanya. Di sisi lain, kurva penyebaran covid-19 masih belum turun. Bahkan, kemarin diumumkan sudah kasus positif Corona sudah mencapai lebih 100 ribu orang," terangnya.

Selain itu, pembelajaran jarak jauh (PJJ) juga dinilai tak efektif lantaran Kemendikbud tidak menyediakan fasilitas apa pun. Terkesan mereka menganggap bahwa semua siswa dan orang tuanya memiliki akses untuk belajar online.

"Tidak pernah juga kedengaran kalau kementerian pendidikan memikirkan agar paket data internet tidak memberatkan ekonomi keluarga siswa. Atau paling tidak, seperti di negara tetangga, paket data tersebut disubsidi,” jelasnya.


Mendikbud Segera Turun Tangan

Dia berharap Mendikbud Nadiem Makarim segera memberi kebijakan meringankan akses internet bagi siswa.

"Semestinya Nadiem menunjukkan kepeloporannya. Apalagi backgroundnya adalah bisnis online. Walau beda jauh, tetapi sedikit ada kemiripan dengan belajar daring. Setidaknya, mirip karena menggunakan akses internet.” terangnya.

Ia menyarankan anggaran kegiatan program organisasi penggerak (POP) digunakan untuk mensubsidi internet siswa saja.

"Jangan heran, anggaran kegiatan program organisasi penggerak (POP) saja mencapai Rp 595 Miliar. Di tengah pandemi seperti ini, uang sebanyak itu sangat berarti untuk membantu masyarakat. Sayang sekali tidak dimanfaatkan secara bijaksana.” Ia menandaskan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya