Liputan6.com, Jakarta - Pembobolan rekening nasabah bank melalui media kartu debit belakangan marak terjadi. Terakhir, PT Bank Mandiri Tbk, salah satu bank besar di Indonesia, terpaksa melakukan pemblokiran ke beberapa kartu automated teller machine (ATM) nasabahnya sebagai langkah melindungi dana nasabah dari upaya pembobolan.
Bank Mandiri telah memblokir lebih dari 1.200 kartu ATM nasabahnya yang terindikasi data-datanya telah digandakan melalui mesin ATM dengan modus skimming.
Pengamat perbankan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Paul Sutaryono menilai kejahatan perbankan yang perlu diwaspadai selain melalui modus pemasangan camera dan skimmer di mesin ATM, adalah modus pemasangan stiker call center palsu.
"Mesin ATM ada stiker isinya tulisan call center bank bersangkutan, jangan dipercaya dulu, saya pernah mengalami, ada stiker itu, saya ambil itu, waktu itu kartu ATM saya tertelan, setelah saya hubungi itu palsu ternyata," ungkapnya saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Jumat (16/5/2014).
Sutaryono menjelaskan memang dalam stiker tersebut nomor call center sama dengan yang dimiliki oleh bank terkait, hanya saja alamat email yang tertera bukanlah email resmi pengaduan dari bank tersebut.
"Saya menghubungi bank itu, tapi saya tau call center-nya, saya sampaikan apa betul alamat emailnya ini, ternyata bukan. Itu harus diwaspadai," jelasnya.
Lebih lanjut menurut Sutaryono masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi dengan menggunakan mesin ATM di beberapa tempat.
"Dari sisi siapa yang salah ya kita juga, ya nasabah. Nasabah itu harus jeli, misalnya di ATM ada kejadian waktu kartu masuk agak susah, jangan diteruskan, itu indikasi bermasalah," pungkasnya. (Yas/Gdn)
Hati-Hati, Modus Pembobolan ATM Melalui Call Center Palsu
Masyarakat harus lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi dengan menggunakan mesin ATM di beberapa tempat.
Advertisement