Liputan6.com, Jakarta Industri keuangan, baik perbankan maupun pasar modal, akan menghadapi tantangan di tahun depan. Pasalnya, tahun 2018 berlangsung pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) serentak.
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengatakan, Pilkada serentak ini membutuhkan dana yang besar.
Baca Juga
"Cuma satu yang kita tak pernah tahu, politik enggak pernah ganggu. Tapi tahun depan ada 117 Pilkada," kata dia di Gedung BEI Jakarta, Senin (13/11/2017).
Advertisement
Tito mengatakan, pihaknya sulit memprediksi apakah dana tersebut ditarik dari industri keuangan atau tidak. Dia mengaku, tak memiliki pengalaman menghadapi Pilkada.
"Nah pertanyaan karena enggak punya pengalaman," kata dia.
Tito menambahkan, dana yang dibutuhkan untuk Pilkada cukup besar. Hal yang menantang lain, lanjut dia, momen Pilkada ini juga dibarengi dengan kewajiban masyarakat menyelesaikan urusan perpajakan.
"Setelah tax amnesty uang di perbankan ini uang ketarik dari sistem perbankan enggak ya. Satu Pilkada 4-5 calon, anggap Rp 100 miliar, costnya Rp 17-20 triliun. Ditambah pajak Maret uang di bank ketarik, ini uang ketarik bersamaan," tukas dia