Liputan6.com, Jakarta Pandemi Covid-19 turut menyeret ekonomi di setiap negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Ekonomi terpuruk lantaran penggerak ekonomi terkena imbasnya, dia adalah UMKM.
Vice President Commercial and Revenue Growth Oriente, Sirish Kumar mengatakan, dari berbagai survei, masalah utama UMKM untuk bisa berkembang, bahkan hanya untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19 ini adalah aksees permodalan.
Baca Juga
Sayangnya, tidak semua UMKM mudah dalam mendapatkan akses permodalan dari bank. Faktanya, meski terdapat lebih dari 60 juta UKM di Indonesia, hanya 12 persen yang berhak menerima pembiayaan atau pinjaman bank.
Advertisement
"Di sinilah teknologi non-bank atau Fintech dapat memainkan peran penting dengan menganalisis sumber data alternatif, membangun model penilaian kredit baru, dan memperluas akses keuangan tanpa bias," kata dia dalam tulisannya, Selasa (6/4/2021).
Menurutnya, kebutuhan usaha kecil dan mikro untuk mengadopsi solusi keuangan digital juga telah meningkat secara signifikan dalam waktu yang relatif singkat.
"Dalam percakapan saya dengan pemasok, mereka melihat kebutuhan mendesak akan aplikasi seluler yang dapat mendigitalkan pengadaan dan manajemen inventaris di seluruh jaringan pengecer mereka," tambahnya.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Kantar, transaksi tunai telah menurun dari 48 persen dari semua pembelian sebelum pandemi menjadi 37 persen hari ini.
Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:
Pandemi Covid-19 berdampak serius terhadap sektor UMKM. Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki menjelaskan, untuk menangani dampak pandemi Covid-19, pemerintah telah menggelontorkan berbagai stimulus untuk membantu UMKM senilai Rp 123,46 triliun.
Perkembangan Digitalisasi Cukup Cepat
Pandemi juga secara dramatis mempercepat adopsi alat dan teknologi digital di antara pelanggan mereka. Dalam 12 bulan terakhir permintaan jual beli online terkait mesin pencari telah meningkat lima kali lipat, dengan lebih dari 54 persen dan 56 persen konsumen digital baru masing-masing berada di luar kota-kota besar di Indonesia dan Filipina, menurut sebuah studi tahun 2020 yang dilakukan oleh Bain & Company.
Studi tersebut juga menemukan bahwa pengguna aktif bulanan untuk aplikasi seluler tertentu telah meningkat masing-masing sebesar 53 persen, 43 persen dan 73 persen di Indonesia, Filipina, dan Vietnam. Tingkat adopsi teknologi yang terlihat dalam 12 bulan terakhir sebagai akibat dari pandemi bisa memakan waktu 5-10 tahun lagi. Dengan paradigma baru ini, tidak lagi dapat bertahan di luar ekonomi formal.
"Dengan memanfaatkan perangkat digital, usaha kecil dan menengah kini dapat memperoleh akses ke berbagai sumber daya bisnis penting, seperti akuntansi, pembiayaan, manajemen inventaris, eKYC, solusi pembayaran, dan produk asuransi. Dengan kemitraan Fintech yang tepat, saya berharap para pemasok untuk bisnis mikro ini berkontribusi dalam membangun ekosistem yang memungkinkan bisnis di jaringan mereka untuk lebih memanfaatkan solusi ini untuk menciptakan nilai bersama," pungkasnya.
Advertisement