Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, bagi Indonesia sangat penting untuk memanfaatkan potensi ekonomi digital untuk memperkuat momentum pemulihan ekonomi.
Alasannya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi pengguna internet terbesar di dunia. Menurut data yang disampaikan Sri Mulyani terdapat 247 juta pengguna internet di Tanah Air.
Artikel mengenai perkembangan ekonomi digital di Indonesia ini menjadi salah satu artikel yang banyak dibaca. Selain itu masih ada beberapa artikel lain yang layak untuk disimak.
Advertisement
Lengkapnya, berikut ini tiga artikel terpopuler di kanal bisnis Liputan6.com pada Kamis 29 September 2022:
1. Sri Mulyani Yakin Ekonomi Digital Indonesia Sentuh USD 120 Miliar di 2025
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, bagi Indonesia sangat penting untuk memanfaatkan potensi ekonomi digital untuk memperkuat momentum pemulihan ekonomi.
Hal itu disampaikan dalam acara Konferensi Integrity and Compliance Task Force B20: Fostering Agility to Combat Money Laundering and Economic Crimes, Rabu (28/9/2022).
"Bagi Indonesia, sangat penting untuk memanfaatkan potensi ekonomi digital dan memastikan bahwa potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat momentum pemulihan ekonomi, dan berkontribusi pada pertumbuhan masa depan, yang berkelanjutan dan juga inklusif," kata Sri Mulyani.
Simak berita selengkapnya di sini
2. Konversi Kompor Listrik Batal, YLKI: Pemerintah Tak Punya Roadmap Jelas
Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Agus Suyatno memandang positif pembatalan konversi kompor gas LPG ke kompor listrik. Bahkan, disebut pemerintah dipandang tidak punya roadmap yang jelas di bidang energi.
"Mengevaluasi bahkan membatalkan kebijakan konversi kompor gas ke kompor listrik pada saat ini merupakan pilihan logis," kata dia kepada Liputan6.com, Rabu (28/9/2022).
Ia mengatakan, YLKI menduga munculnya kebijakan ini merupakan kepanikan pemerintah terhadap melambungnya subsidi gas elpiji 3 kg. Jika demikian, ia menyayangkan sejumlah masyarakat sudah menjadi sasaran uji coba konversi tersebut.
Simak berita selengkapnya di sini
Advertisement
3. Perjalanan Garuda Indonesia, dari Buntung Kini Untung
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) atau yang dikenal sebagai maskapai Garuda Indonesia mengantongi laba sebesar USD 3,8 miliar atau sekitar Rp 57,5 triliun (kurs (Rp 15.126 per USD) pada semester I 2022.
Namun, capaian laba ini berbanding terbalik dari posisi semester I 2021, di mana perseroan mencatatkan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai USD 898,65 juta atau sekitar Rp 13,7 triliun.
"Jadi USD 3,8 miliar ini mayoritas diperoleh dari cancellation of a debt. Jadi utang yang turun dari USD 10 miliar ke USD 5 miliar, menjadi salah satu penyebab utamanya. Demikian juga dengan kinerja ekuitas," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra.