Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan Indonesia mampu mengecap pertumbuhan ekonomi di atas 7% pada kurun waktu 2015-2019 dan 2020-2025. Pasalnya, Indonesia memiliki bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif lebih banyak.
"Potensinya bisa dan ada, apalagi dengan bonus demografi yang kita punya," ungkap Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana di Jakarta, Jumat (7/2/2014).
Indonesia, katanya, sudah menikmati bonus demograsi pada 2013 dengan rasio ketergantungan 49,3%. Ini menandakan bahwa setiap 100 pekerja menanggung beban untuk 49,3 penduduk usia tidak produktif.
Seseorang dikategorikan usia tidak produktif jika berusia di bawah 15 tahun dan di atas 60 tahun. Sedangkan usia produktif berada di rentang 15-65 tahun.
"Sedangkan pada 2014, kita akan masuk rasio ketergantungan 48,9% dan mencapai titik paling rendah di angka 46,9% dari 2028-2031," ujar Armida.
Bonus demografi ini, sambungnya, akan menyumbang 10%-15% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Semakin banyak penduduk usia produktif, semakin besar pula kontribusinya kepada perekonomian.
Namun, diakui Armida, semua kondisi ini bisa tercapai jika penduduk usia produktif antara 15 tahun-60 tahun ini memiliki pekerjaan, keterampilan dan kemampuan memadai.
"Jadi bayangannya kalau rata-rata ekonomi kita tumbuh 6%, dan bisa manfaatkan bonus demografi berarti 10%-15% dari 6% jadi 0,6, sehingga jadinya 6% ditambah 0,6%, ya plus minus 1% dan bisa menjadi 7%. Itu kan lumayan, kalau negara macam Eropa tidak ada bonus demografinya. Kata kuncinya investasi, termasuk infrastruktur," jelasnya.
Bappenas memperkirakan setiap satu persen pertumbuhan ekonomi akan menyerap 220 ribu tenaga kerja. Dengan adanya pertambahan angkatan kerja sekitar 900 ribu-satu juta, total angkatan kerja yang terserap mencapai 1,2 juta orang. "Jadi ini akan sangat mengurangi angka pengangguran," klaim dia.(FIk/Shd)
Baca juga
"Potensinya bisa dan ada, apalagi dengan bonus demografi yang kita punya," ungkap Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana di Jakarta, Jumat (7/2/2014).
Indonesia, katanya, sudah menikmati bonus demograsi pada 2013 dengan rasio ketergantungan 49,3%. Ini menandakan bahwa setiap 100 pekerja menanggung beban untuk 49,3 penduduk usia tidak produktif.
Seseorang dikategorikan usia tidak produktif jika berusia di bawah 15 tahun dan di atas 60 tahun. Sedangkan usia produktif berada di rentang 15-65 tahun.
"Sedangkan pada 2014, kita akan masuk rasio ketergantungan 48,9% dan mencapai titik paling rendah di angka 46,9% dari 2028-2031," ujar Armida.
Bonus demografi ini, sambungnya, akan menyumbang 10%-15% terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Semakin banyak penduduk usia produktif, semakin besar pula kontribusinya kepada perekonomian.
Namun, diakui Armida, semua kondisi ini bisa tercapai jika penduduk usia produktif antara 15 tahun-60 tahun ini memiliki pekerjaan, keterampilan dan kemampuan memadai.
"Jadi bayangannya kalau rata-rata ekonomi kita tumbuh 6%, dan bisa manfaatkan bonus demografi berarti 10%-15% dari 6% jadi 0,6, sehingga jadinya 6% ditambah 0,6%, ya plus minus 1% dan bisa menjadi 7%. Itu kan lumayan, kalau negara macam Eropa tidak ada bonus demografinya. Kata kuncinya investasi, termasuk infrastruktur," jelasnya.
Bappenas memperkirakan setiap satu persen pertumbuhan ekonomi akan menyerap 220 ribu tenaga kerja. Dengan adanya pertambahan angkatan kerja sekitar 900 ribu-satu juta, total angkatan kerja yang terserap mencapai 1,2 juta orang. "Jadi ini akan sangat mengurangi angka pengangguran," klaim dia.(FIk/Shd)
Baca juga
Cadangan Devisa RI Kembali Tembus US$ 100 Miliar
Diantara Negara Berkembang, RI Paling Sukses Majukan Ekonomi
Baca Juga
Pertumbuhan Pesat Ekonomi RI Tak akan Terulang Lagi?
Advertisement