Liputan6.com, Kolombo: Krisis energi dan pertanian yang melanda Srilanka belakangan ini, mengancam lahan persawahan padi seluas 150 ribu hektare kekeringan akibat kurangnya pasokan air. Cuaca kering yang berkepanjangan di wilayah tersebut, juga mengancam banyak wilayah budidaya padi di negara itu termasuk daerah pusat di utara Sri Lanka.
Kondisi tersebut mengakibatkan berkurangnya hasil panen penting, yang merupakan makanan pokok bagi 20 juta jiwa yang mendiami wilayah tersebut. Seperti dilansir laman Xinhua, Rabu (27/6), Menteri Pertanian Mahinda Yapa Abeywardana mengatakan bahwa saat ini Srilanka masih memiliki stok beras yang cukup untuk sekitar enam bulan kedepan.
Namun, stok tersebut diperkirakan akan berkurang dan tak dapat memenuhi kebutuhan penduduk di akhir tahun jika kondisi kekeringan masih terjadi. "Banyak produsen beras utama mengalami kekeringan, "ungkap Abeywardana.
Melihat kondisi tersebut, Presiden Mahinda Rajapaksa melakukan pembicaraan dengan organisasi utama petani. Sementara itu, Ceylon Electricity Board yang memproduksi dan mentransmisikan semua listrik di Srilanka juga memperingatkan kekeringan parah itu juga akan mempengaruhi efektivitas kerja pembangkit listrik tenaga air.
Srilanka memang menggantungkan sebagian besar produksi energi sekitar 60 persen dari tenaga air. Namun jika kondisi di negara tersebut masih mengalami kekeringan, diperkirakan harga minyak yang akan digunakan sebagai bahan bakar pengganti pembangkit tenaga air akan meningkat.(TNT/IAN)
Kondisi tersebut mengakibatkan berkurangnya hasil panen penting, yang merupakan makanan pokok bagi 20 juta jiwa yang mendiami wilayah tersebut. Seperti dilansir laman Xinhua, Rabu (27/6), Menteri Pertanian Mahinda Yapa Abeywardana mengatakan bahwa saat ini Srilanka masih memiliki stok beras yang cukup untuk sekitar enam bulan kedepan.
Namun, stok tersebut diperkirakan akan berkurang dan tak dapat memenuhi kebutuhan penduduk di akhir tahun jika kondisi kekeringan masih terjadi. "Banyak produsen beras utama mengalami kekeringan, "ungkap Abeywardana.
Melihat kondisi tersebut, Presiden Mahinda Rajapaksa melakukan pembicaraan dengan organisasi utama petani. Sementara itu, Ceylon Electricity Board yang memproduksi dan mentransmisikan semua listrik di Srilanka juga memperingatkan kekeringan parah itu juga akan mempengaruhi efektivitas kerja pembangkit listrik tenaga air.
Srilanka memang menggantungkan sebagian besar produksi energi sekitar 60 persen dari tenaga air. Namun jika kondisi di negara tersebut masih mengalami kekeringan, diperkirakan harga minyak yang akan digunakan sebagai bahan bakar pengganti pembangkit tenaga air akan meningkat.(TNT/IAN)