Liputan6.com, Beijing- Ahli epidemiologi dari Komisi Kesehatan Nasional China menilai sumber daya medis yang bermasalah dapat menjelaskan mengapa tingkat kematian akibat Virus Corona di Provinsi Hubei, lebih tinggi daripada wilayah lain di China.
Angka kematian Virus Corona terbaru atau 2019-nCoV di China pada 2 Febuari lalu (tidak termasuk Provinsi Hubei) adalah 0,18 persen, yang dilaporkan sedikit lebih tinggi dari flu musiman. Sementara di Provinsi Hubei, angka kematian mencapai 3,13 persen.
Seorang profesor di Zhejiang University, Li Lanjuan, mengatakan kepada Stasiun Penyiar China, CCTV, ada beberapa alasan di balik tingginya angka kematian akibat Virus Corona di Hubei.
Advertisement
Ia mengatakan hal itu karena adanya kondisi di mana seorang dokter harus merawat pasien yang berjumlah cukup banyak di Hubei dan Kota Wuhan.
Selain itu, ia menambahkan hal itu terjadi karena adanya masa puncak dari pneumonia, dan jumlah pasien yang tiba-tiba meningkat, juga kurangnya sumber daya medis (yang telah terdokumentasi), seperti dikutip dari CGTN, Rabu, (5/2/2020).Â
Saksikan Video Berikut Ini:
Tambahan Layanan Medis
Li, yang juga bekerja di Renmin Hospital of Wuhan University, menyampaikan harapannya agar perawatan darurat dapat ditingkatkan untuk para pasien Virus Corona, ia pun juga dikabarkan ikut membawa tenaga medis dari Provinsi Zhejiang (China Timur) ke Hubei.
Li juga menyampaikan, dengan banyaknya tim medis dari seluruh negeri yang datang ke Wuhan, dapat memberikan dukungan yang cukup baik untuk menangani wabah. Â
"Tim medis dari seluruh negeri datang ke Wuhan ... Personil medis lokal bisa mendapatkan istirahat berkat dukungan ini," katanya.
Advertisement
Rumah Sakit Baru Dinilai Membantu
Wuhan dikabarkan telah membangun 2 rumah sakit baru. Rumah sakit darurat yang bernama Huoshenshan dan Leishenshan tersebut dibangun untuk merawat pasien Virus Corona. Pasien pertama juga dikabarkan telah tiba di Rumah Sakit Huoshenshan.
Li mengatakan, ia percaya akan kemampuan dua rumah sakit itu untuk menghilangkan tekanan yang ada di Wuhan. "Ada pasien yang perlu dirawat secara terpisah, kedua rumah sakit bisa menyelesaikan masalah ini," tutur dia.
Li menambahkan, untuk saat ini tidak ada tanda-tanda mutasi virus dengan gejala klinis pasien yang menunjukkan kesamaan di seluruh negeri.