Liputan6.com, Venesia - Istilah karantina menjadi akrab di kamus masyarakat luas akibat pandemi COVID-19. Karantina ternyata pertama kali dilakukan di Italia ketika wabah pes (bubonic plague) menyerang Eropa.
Praktik itu dilakukan di Venesia (Venice), Italia, pada tahun 1400-an. Saat itu, Venesia sedang dalam masa jaya karena menjadi pusat ekonomi di Eropa.
Istilah karantina juga berasal dari Venesia yang berarti "40 hari."
Advertisement
Baca Juga
Menurut Euronews, Minggu (7/2/2021), pemerintah setempat memakai sistem isolasi pada sebuah pulau pada kru yang membawa barang-barang dari luar Venesia. Pasalnya, virus bubo disebar oleh tikus dari kapal yang berasal dari Afrika atau wilayah Timur.
Pulau-pulau itu dinamakan kepulauan Lazaret. Jarak pulau Lazaret hanya beberapa kilometer dari Venesia. Lokasinya juga strategis dan tersedia kuburan untuk umat Kristen dan Muslim.
Ada dua Lazaret: Lazaret lama dan baru.
"Yang sakit dulunya pergi ke Lazaret lama, yang sehat ditempatkan di Lazaret baru agar penyakitnya tidak menyebar karena dulu tak ada pengobatan medisnya," ujr Gerolamo Fazzini, Presiden dari Archeoclub of Venice, Association Custodian of Lazaret.
Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:
Ada Kuburan Islam dan Kristen
Karantina berasal dari kata quarantena yang artinya 40 hari. Periode itulah yang dibutuhkan bagi penumpang, kru, dan kargo untuk tinggal di Lazaret.
Meski demikian, periode karantina di Venesia bervariasi. Ada yang dikarantina hingga 54 hari.
Pulau-pulau itu terbagi menjadi 10 kawasan isolasi, dan dilengkapi rumah-rumah. Sebuah gereja bernama St. Bartholomew juga tersedia di loksi yang strategis sehingga jamaah bisa melakukan social distancing.
Kuburan Kristen dan Muslim juga tersedia di pulau karantina itu.
Bagi umat Kristen, nama pemakamannya adalah Camposanto (kuburan suci), sementara bagi umat Muslim kuburannya disebut Graveyard of Tripolites.
Advertisement
Black Death
Bubonic plague juga dikenal sebagai black death. Pada abad ke-14, diperkirakan korban meninggal mencapai sekitar 75 juta bahkan ada yang menyebut 200 juta orang.
Saat wabah menyerang, para tim medis juga memakai masker, tetapi maskernya berbentuk seperti paruh burung.Â
Bentuknya demikian karena black death dianggap menular lewat udara. Maka, topeng khusus dibuat seperti paruh untuk diisi tanaman-tanaman yang dianggap berkhasiat untuk menghadang virus tersebut.Â
Topeng yang digunakan saat wabah tersebut masih eksis sebagai kostum hingga zaman sekarang.