Liputan6.com, Moskow Pesawat sipil Rusia milik maskapai Siberia Airlines dalam perjalanan dari Tel Aviv, Israel menuju Novosibirsk, Siberia, meledak di atas Laut Hitam dengan 78 orang di dalamnya. Insiden itu terjadi pada 21 tahun silam, tepatnya 4 Oktober 2001.
Dikutip dari BBC News, Presiden Rusia Vladimir Putin kala itu mengatakan pesawat tersebut bisa saja dijatuhkan teroris. "Sebuah pesawat sipil jatuh hari ini dan kemungkinan itu akibat dari aksi teroris," ujar Putin dalam pertemuan para menteri kehakiman Eropa pada 4 Oktober 2001.
Baca Juga
18 Januari 1963: Pemimpin Partai Buruh Inggris Hugh Gaitskell Meninggal Akibat Kondisi Langka Penyakit Lupus
16 Januari 2001: Kapal Tanker Pembawa Bahan Bakar Kandas di Kepulauan Galapagos, 62% Populasi Iguana Laut Mati
15 Januari 1973: Presiden AS Richard Nixon Perintahkan Gencatan Senjata, Stop Bom Vietnam Utara
Setelah kecelakaan itu, Israel menangguhkan penerbangan keluar dari Bandara Ben Gurion Tel Aviv. Namun pesawat masih diperbolehkan mendarat.
Advertisement
Putin menugaskan sekretaris Dewan Keamanan Rusia untuk melakukan penyelidikan atas kecelakaan pesawat Siberia Airlines bernomor Flight 1812 itu. Seorang pilot Armenia yang saat itu melakukan penerbangan di dekat lokasi kejadian melaporkan, melihat ledakan di pesawat Rusia sebelum jatuh.
Seorang juru bicara Kementerian Darurat Rusia mengatakan pesawat Flight 1812Â telah jatuh 185 kilometer dari kota pesisir Rusia, Adler. Kedalaman air diperkirakan sekitar 90 meter di lokasi kecelakaan.
Juru Bicara Otoritas Bandara Israel Pini Shif mengatakan, pengendali lalu lintas udara kehilangan kontak dengan pesawat empat jam setelah penerbangan. Dia mengatakan, "Tidak ada indikasi masalah sebelum kecelakaan itu, jadi kami tidak memiliki informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi."
Dinas Penerbangan Israel mengatakan, Siberia Airlines Flight 1812 --pesawat reguler penerbangan sipil mingguan-- melewati pemeriksaan keamanan ketat sama seperti yang dilakukan pada pesawat lain yang bepergian ke atau dari Negara Israel.
Upaya Penyelamatan
Menurut laporan BBC News, pada 4 Oktober 2001, setidaknya dua mayat telah ditemukan oleh kru penyelamat darurat setelah melakukan upaya penyelamatan hari itu.
Media Israel melaporkan, Kementerian Darurat Rusia mengatakan setidaknya ada 66 penumpang dan 11 awak di dalamnya. Sekitar 50 penumpang adalah imigran dari Rusia yang akan tinggal di Israel.
Pesawat TU-154 bermesin tiga milik Siberia Airlines yang berbasis di Novosibirsk ini jatuh sekitar pukul 13.35 waktu Moskow (09.35GMT).
Wartawan BBC Jonathan Charles mengatakan maskapai penerbangan Rusia umumnya memiliki catatan keselamatan yang lebih buruk daripada rekan-rekan Barat mereka.
Sebelumnya, pesawat serupa, TU-154 jatuh di Kota Irkutsk di Rusia Timur pada Juli 2001, menewaskan 145 orang di dalamnya.
Berdasarkan kesimpulan penyelidikan sementara pada 4 Oktober 2001, kecelakaan Flight 1812 merupakan bencana udara Rusia terburuk saat itu yang disebabkan oleh kesalahan pilot.
Advertisement
Kalimat Terakhir Pilot: 'Di Mana Kita Tertembak?'
Delapan hari berikutnya, investigasi menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara latihan rudal Ukraina dengan kecelakaan Flight 1812.
Dilansir dari The Guardian yang mengutip dari surat kabar Rusia, menyebutkan bahwa kalimat terakhir dari pilot pesawat TU-154 memperkuat teori jika rudal Ukraina adalah penyebab bencana itu, Jumat (12/10/2001).
Beberapa detik sebelum kecelakaan pesawat, menurut sebuah laporan di Kommersant, pilot TU-154Â menyebutkan kalimat kepanikan.
Wakil Kepala Kontrol Lalu Lintas Udara Kaukasus Utara Vladimir Zhukov mengatakan, "Hanya ini yang kami dengar, pilot bertanya kepada salah satu krunya: 'Di mana kita tertembak?'. Sepertinya dia mencoba untuk mendapatkan informasi yang tepat tentang kerusakan yang disebabkan oleh ledakan rudal".
Penyelidik pun mempertimbangkan kemungkinan bahwa Siberia Airlines Flight 1812 ini hancur oleh rudal anti-aircraft S200 Ukraina yang ditembakkan selama latihan militer di Semenanjung Krimea.
Mereka percaya rudal itu tidak mengenai secara langsung tetapi meledak di jarak beberapa meter dari TU-154, kemudian menembakkan pecahan rudal yang mengenai pesawat tersebut.
Â
Teori Pecahan Rudal
Menurut laporan The Guardian, para ahli percaya, saat pecahan rudal mengenai pesawat, pilot dan sebagian besar penumpangnya masih hidup, tetapi kemudian pesawat terjatuh ke Laut Hitam. Saat itu rekaman penerbangan black box masih terletak di dasar laut.
Tak satu pun dari mayat yang diperiksa menunjukkan luka yang khas dari bencana udara. Menurut Igor Shipanov, seorang ahli forensik senior di Pelabuhan Laut Hitam Sochi, beberapa dari 15 mayat yang ditemukan telah diperiksa.
"Pendapat kami adalah orang-orang itu tidak meninggal saat masih di udara tetapi karena dampak menghantam air, yang dari ketinggian seperti itu setara dengan dampak menghantam aspal," ujar Igor kepada Kommersant.
Seorang penyelidik Rusia Yevgeny Shaposhnikov mengatakan mereka telah menemukan apa yang mereka yakini sebagai bagian rudal di puing-puing pesawat.
Pada awalnya angkatan bersenjata Ukraina membantah bertanggung jawab, dengan mengatakan rudal tidak memiliki jangkauan untuk mencapai pesawat.
Namun, di hari berikutnya, Perdana Menteri Anatoly Kinakh mengakui bahwa teori rudal "benar adanya". Kemudian, pada Selasa (9/10/2001), Presiden Leonid Kuchma yang pernah mengelola pabrik rudal terbesar di Uni Soviet mengatakan, dia akan menerima kesimpulan penyelidikan.
Kuchma juga mengatakan bahwa menteri pertahanan Ukraina telah mengajukan pengunduran diri. Ia bersumpah seseorang harus "bertanggung jawab" atas kebenaran teori rudal itu.
Kejadian serupa pernah terjadi pada 2000, sebuah rudal menghantam kota Borvary dan menewaskan empat orang. Angkatan bersenjata saat itu menolak bertanggung jawab, tetapi akhirnya pecahan rudal ditemukan di puing-puing rumah yang hancur.
Advertisement