Liputan6.com, Jakarta - Kanker payudara, penyakit yang ditandai pertumbuhan sel abnormal dan tidak terkendali di jaringan payudara termasuk saluran air susu (duktus), kelenjar penghasil susu (lobulus), serta jaringan lemak atau ikat di sekitarnya, menjadi perhatian serius. Ini merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum menyerang wanita. Meskipun lebih sering menyerang wanita, pria juga berisiko, meskipun jumlah kasusnya jauh lebih rendah. Penting untuk memahami bahwa deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan.
Penyebab pasti kanker payudara masih belum sepenuhnya terungkap, namun beberapa faktor meningkatkan risiko terkena penyakit ini. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, terutama wanita di atas usia 50 tahun, meskipun pria juga berisiko, meskipun kasusnya lebih jarang.
Faktor-faktor risiko meliputi genetik (mutasi gen BRCA1 dan BRCA2, riwayat keluarga), hormon (paparan estrogen jangka panjang), gaya hidup (obesitas, merokok, konsumsi alkohol berlebihan, pola makan buruk), dan usia.
Advertisement
Selain itu, riwayat kanker payudara sebelumnya, kepadatan jaringan payudara, belum pernah hamil atau melahirkan di usia di atas 35 tahun, dan paparan radiasi juga meningkatkan risiko. Deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan.
Gejala awal kanker payudara seringkali tidak muncul, tetapi beberapa tanda perlu diwaspadai. Benjolan di payudara atau ketiak (keras, tidak nyeri, tepi tidak rata), perubahan bentuk atau ukuran payudara, perubahan kulit payudara (kemerahan, menebal, berkerut, seperti kulit jeruk), keluarnya cairan dari puting (jernih, kekuningan, atau berdarah), puting tertarik ke dalam, dan nyeri payudara atau ketiak yang menetap perlu segera diperiksakan ke dokter.
Meski demikian, tidak semua benjolan di payudara adalah kanker, namun kewaspadaan tetap penting.
Faktor Risiko Kanker Payudara: Lebih Dekat dengan Penyebabnya
Beberapa faktor meningkatkan risiko seseorang terkena kanker payudara. Faktor genetik memainkan peran penting, dengan mutasi gen seperti BRCA1 dan BRCA2 meningkatkan risiko secara signifikan. Riwayat keluarga yang memiliki riwayat kanker payudara juga meningkatkan kemungkinan seseorang mengalaminya. Hal ini menunjukkan pentingnya riwayat kesehatan keluarga dalam menilai risiko kanker payudara.
Selain genetik, paparan hormon juga berperan. Paparan hormon estrogen dalam jangka panjang, misalnya karena menstruasi dini, menopause terlambat, atau penggunaan terapi penggantian hormon (HRT), dapat meningkatkan risiko. Oleh karena itu, penting untuk memahami siklus hormonal tubuh dan dampaknya terhadap kesehatan.
Faktor gaya hidup juga tidak dapat diabaikan. Obesitas, konsumsi alkohol berlebihan, merokok, dan pola makan yang buruk (tinggi lemak, rendah serat) dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Mempertahankan gaya hidup sehat sangat penting untuk mengurangi risiko.
Usia juga merupakan faktor risiko yang signifikan. Risiko kanker payudara meningkat seiring bertambahnya usia, terutama setelah menopause. Penting bagi wanita di atas usia 50 tahun untuk lebih waspada dan melakukan pemeriksaan rutin.
Advertisement
Gejala Awal Kanker Payudara: Waspadai Perubahan di Tubuh
Meskipun banyak kasus kanker payudara stadium awal tidak menunjukkan gejala, beberapa perubahan pada payudara perlu diwaspadai. Salah satu gejala yang paling umum adalah benjolan di payudara atau ketiak. Benjolan ini biasanya keras, tidak nyeri, dan memiliki tepi yang tidak rata. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua benjolan di payudara merupakan kanker.
Perubahan bentuk atau ukuran payudara juga patut dicurigai. Salah satu payudara mungkin membesar atau berubah bentuk secara tiba-tiba. Perubahan ini bisa berupa asimetri yang tidak biasa atau perubahan yang tidak dapat dijelaskan.
Perubahan pada kulit payudara juga merupakan tanda yang perlu diperhatikan. Kulit payudara mungkin tampak kemerahan, menebal, berkerut, atau seperti kulit jeruk (peau d'orange). Tekstur kulit yang berubah secara signifikan perlu segera diperiksakan.
Keluarnya cairan dari puting, baik jernih, kekuningan, atau bahkan berdarah, juga merupakan gejala yang perlu diwaspadai. Cairan yang keluar secara spontan tanpa sebab yang jelas perlu segera diperiksakan.
Puting yang tertarik ke dalam (retraksi puting) juga merupakan gejala yang perlu diwaspadai. Puting yang tiba-tiba melesak atau tertarik ke dalam bisa menjadi indikasi adanya masalah.
Meskipun jarang, nyeri payudara atau ketiak yang menetap dan tidak dapat dijelaskan juga perlu diwaspadai. Nyeri yang terus-menerus dan tidak terkait dengan siklus menstruasi perlu segera diperiksakan.
Penting untuk diingat: Jika Anda mengalami salah satu gejala di atas, segera konsultasikan dengan dokter. Pemeriksaan lebih lanjut, seperti mamografi atau USG payudara, diperlukan untuk memastikan diagnosis. Deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) secara rutin juga dianjurkan sebagai upaya deteksi dini.
Konsultasikan selalu dengan tenaga medis profesional untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat.