Sukses

Makna Mudik dan Sejarahnya yang Sudah Ada sejak Zaman Majapahit

Mudik sudah menjadi tradisi yang melekat pada masyarakat Indonesia setiap lebaran tiba. Menarik diulas kembali makna mudik dan bagaimana sejarahnya hingga menjadi tradisi sampai hari ini. Simak berikut ulasannya.

Liputan6.com, Jakarta - Para perantau sudah menantikan lebaran Idulfitri sejak lama. Momen tahunan itu menjadi kesempatan untuk pulang ke kampung halamannya, bersama-sama merayakan Idul Fitri dengan keluarga besar. 

Istilah pulang ke kampung halaman pada momen lebaran dikenal dengan mudik. Tahun ini, terpantau sudah banyak yang mudik sejak beberapa hari lalu. Menurut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada Sabtu, 29 Maret 2025 dini hari.

"Prediksi puncak arus mudik akan terjadi nanti malam dan khususnya pola dari masyarakat yang melaksanakan mudik akan mencapai puncaknya pada saat menjelang subuh atau pasca sahur," kata Kapolri saat meninjau langsung Gerbang Tol Cikampek Utama (Cikatama) KM 70, dikutip dari kanal News Liputan6.com, Jumat (28/3/2025).

Berbagai moda transportasi yang digunakan oleh pemudik. Mulai dari kendaraan roda dua, roda empat, atau bahkan lebih. Ada yang menggunakan jalur darat, laut, bahkan udara. 

Mudik sudah menjadi tradisi yang melekat pada masyarakat Indonesia setiap lebaran tiba. Menarik diulas makna mudik dan bagaimana sejarahnya hingga menjadi tradisi sampai hari ini. Simak berikut ulasannya.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

Promosi 1
2 dari 3 halaman

Arti Mudik

Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik berarti pulang ke kampung halaman. Mudik juga diartikan sebagai udik yang berarti desa, dusun, dan kampung.

Dalam bahasa Jawa, mudik merupakan akronim dari mulih diluk yang artinya pulang ke kampung halaman sebentar setelah merantau di kota lain. Sementara dalam bahasa Betawi, mudik adalah menuju mudik yang artinya juga pulang kampung.

Mengutip laman undip.ac.id, Dosen Departemen Susastra, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro, Sukarjo Waluyo menjelaskan, mudik adalah perjalanan orang-orang yang mengadu peruntungan di kota untuk kembali ke kampung asalnya. 

Menurutnya, mudik merupakan sebuah tradisi tahunan dan menjadi fenomena sosial yang mencerminkan lapisan budaya, nilai, serta identitas kolektif yang terbentuk dalam masyarakat. 

Dalam perspektif budaya, mudik Lebaran dipahami sebagai manifestasi dari konsep khas dan bisa kita maknai sebagai ruang budaya masyarakat Indonesia. Perayaan Lebaran merupakan ritual keagamaan sekaligus menjadi sebuah peristiwa budaya yang sangat dinantikan, dihormati, dan mengandung signifikansi budaya dalam realitas kehidupan sosial masyarakat di Indonesia.

3 dari 3 halaman

Sejarah Mudik

Mengutip berbagai sumber, ternyata mudik memiliki sejarah panjang hingga akhirnya menjadi tradisi setiap lebaran Idulfitri. Konon asal-usul mudik bermula pada zaman kekuasaan Majapahit.

Saat itu, Kerajaan Majapahit menempatkan pejabat di berbagai daerah. Kemudian mereka pulang untuk kembali kepada raja dan kampung halamannya pada waktu tertentu.

Masih di zaman Majapahit, mudik juga dilakukan oleh petani Jawa. Mereka pulang ke kampung halamannya lalu membersihkan makam leluhurnya.

Pada tahun 1970-an, mudik menjadi tren kala lebaran tiba. Hingga akhirnya menjadi tradisi di Indonesia yang dilakukan setiap tahun. 

Saat lebaran tiba, mereka yang bekerja di kota pulang ke kampung halamannya. Mereka yang tinggal dengan keluarga barunya di kota, juga pulang menemui orang tuanya..

Mudik bukan lagi sebagai tradisi, tapi suatu keharusan yang dilakukan oleh mereka yang rindu dengan keluarga dan kampung halamannya. Jika lebaran tidak mudik, rasanya ada yang kurang apabila berhari raya tanpa keluarga.

Selanjutnya: Arti Mudik