Sukses

Menteri ESDM Memanggil Delapan Manajer Umum Pertamina

Hari ini, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro akan memanggil delapan petinggi Pertamina di seluruh Indonesia. Mereka dipanggil untuk mempertanggungjawabkan kian meluasnya kelangkaan BBM.

Liputan6.com, Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro hari ini akan memanggil delapan manajer umum Pertamina di seluruh Indonesia. Peryataan ini disampaikan Purnomo di Jakarta, Selasa (13/9) pagi, terkait dengan kelangkaan dan penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah daerah.

Menurut Purnomo, pemanggilan mereka untuk meminta pertanggungjawabannya atas semakin meluasnya kelangkaan BBM. Sebab, perbedaan harga minyak tanah dan solar antara industri dengan yang digunakan masyarakat umum berbeda serta ditengarai menjadi penyebab kelangkaan BBM.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memanggil jajaran Direksi Pertamina. Direksi yang menghadap Presiden Yudhoyono itu terdiri dari Direktur Utama Pertamina Widya Purnama, Wakil Direktur Utama Mustiko Saleh serta empat direksi lainnya. Pemanggilan itu terkait dengan terungkapnya sejumlah kasus penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) di berbagai daerah. [baca: Direksi Pertamina Memenuhi Panggilan Presiden].

Berdasarkan pantauan SCTV, kesulitan warga untuk memperoleh BBM jenis solar dan minyak tanah masih terjadi di berbagai daerah. Antrean warga untuk memperoleh minyak tanah di pangkalan minyak dan tutupnya sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) lebih awal karena kehabisan BBM menjadi pemandangan biasa dalam beberapa hari terakhir.

Di Palembang, Sumatra Selatan, sulitnya warga mendapatkan minyak tanah yang terjadi sejak dua minggu silam, membuat sejumlah warga terlihat mengantre di sejumlah pangkalan minyak. Hal ini terjadi karena banyaknya pangkalan lebih memprioritaskan untuk menjual minyak tanah kepada pedagang minyak dengan gerobak. Harga minyak tanah di Palembang ini dijual oleh pengecer dengan harga Rp 900 per liter atau lebih tinggi dari harga eceran tertinggi di daerah itu yang harganya hanya Rp 800 per liter.

Kelangkaan solar di jalur Pantai Utara, Jawa Tengah, berdampak pada usaha penggilingan padi yang menggunakan solar sebagai bahan bakar penggerak mesin penggilingnya. Sebagian tempat penggilingan di jalur Pantura itu telah menutup sementara tempat usahanya [baca: Solar Langka di Jalur Pantura].

Didin, pemilik penggilingan padi di Desa Cibiyuk, Kecamatan Ampelgading, Pemalang, Jateng, mengaku sudah dua hari tidak beroperasi karena kesulitan mendapatkan solar. Menurut Didin, kalaupun ada solar yang dijual pembeliannya telah dibatasi maksimal 10 liter. Padahal, kebutuhan solar untuk penggilingan padi per hari minimal 30 liter.

Di Kota Cilegon, Serang, dan Pandeglang, Banten, sejumlah SPBU hanya menjual BBM jenis premium dan tutup lebih awal. Kondisi ini terjadi karena pengurangan pasokan dari Pertamina sejak dua pekan terakhir.

Kelangkaan solar di tiga wilayah itu membuat pihak SPBU terpaksa memasang pemberitahuan bahwa solar sudah habis. Di Serang dari 13 SPBU yang ada hanya tiga SPBU saja yang masih bisa beroperasi. Pihak Pertamina di Tanjung Gerem, Banten, enggan mengomentari adanya kelangkaan solar tersebut.

Sementara itu, pengguna transportasi air di Banjarmasin kembali kesulitan mendapatkan jenis solar. Akibatnya, setiap hari sejumlah SPBU terapung di Sungai Barito dan Martapura dipenuhi antrean kapal pembeli solar. Sedangkan warga sekitar yang setiap hari menggunakan perahu motor sebagai sarana transportasinya di pesisir sungai itu sulit beraktivitas [baca: Penyelundupan Solar di Sungai Barito Digagalkan].

Di wilayah itu, untuk mendapatkan solar di tingkat pengecer harganya telah mencapai Rp 3.000 per liter. Warga yang memiliki perahu motor sudah tidak mampu lagi membeli solar. Walaupun di SPBU terapung solar dijual jauh lebih murah yaitu Rp 2.200 per liter, namun untuk mendapatkannya harus rela mengantre. Sementara dalam antrean itu terdapat warga yang beralih profesi menjadi pengecer solar.(ZIZ/Tim Liputan 6 SCTV)