Sukses

Terminal Pulogadung Mulai Padat

Jumlah pemudik di Terminal Pulogadung, Jaktim, mencapai 27 ribu orang sejak Sabtu petang. Diperkirakan penumpang dengan bus antarprovinsi dari Jateng dan Jatim akan mencapai 40 ribu orang.

Liputan6.com, Jakarta: Terminal Bus Pulogadung, Jakarta Timur, padat penumpang empat hari pasca-Lebaran. Bus antarkota antarprovinsi dari Jawa Tengah dan Jawa Timur memasuki terminal, Ahad (29/10) dini hari. Para pemudik memilih balik ke Jakarta hari ini agar bisa beristirahat sebelum kembali bekerja besok.

Hingga Sabtu petang, jumlah penumpang di Terminal Pulogadung mencapai 27 ribu orang. Jalur Pantai Utara relatif tidak macet sehingga bus-bus dari Jateng dan Jatim dapat tiba tepat waktu di Jakarta. "Macet tapi lancar jalan," kata sejumlah penumpang. Diperkirakan penumpang terus bertambah hingga mencapai 40 ribu orang.

Stasiun Kereta Api (KA) Senen, Jakarta Pusat, juga ramai dini hari tadi. Sejak pukul 03.00 WIB, kereta api dari Jateng, Yogyakarta, dan Jatim mulai berdatangan. Puncak arus balik dengan kereta api diperkirakan terjadi hari ini. Menurut prediksi, 10 ribu pemudik tiba di stasiun Senen hari ini. Mereka menumpang 17 kereta api reguler dan dua KA tambahan.

PT Kereta Api Indonesia menambah dua armadanya untuk mengantisipasi peningkatan jumlah pemudik. Dua KA dari Kutoarjo dan Surabaya akan beroperasi sampai 31 Oktober mendatang. PT KAI juga akan menambah KA dari daerah lain seperti Semarang dan Yogyakarta jika pemudik membludak.

KA sempat terlambat satu jam lebih dari jadwal tiba di Jakarta pukul 02.00 WIB. Kereta api molor dari jadwal karena terjadi tawuran antarwarga di lintasan kereta api di daerah Indramayu, Jabar. Keterlambatan ini otomatis mempengaruhi jadwal KA lain di Stasiun Senen hari ini.

Arus balik di wilayah selatan Jawa, tepatnya di kawasan Cipanas, Cianjur, Jabar, pagi ini, tidak padat. Jalanan di depan Istana Cipanas relatif lengang. Hanya sedikit kendaraan yang melintas dari arah Bogor maupun menuju Jakarta. Diperkirakan arus mudik di jalur ini akan mencapai puncak hari ini.

Kondisi ini berbeda sekali dengan situasi di pintu gerbang Jalan Tol Padalarang Barat, Jabar, kemarin siang. Antrean kendaraan mengular hingga sepanjang tiga kilometer [baca: Terminal Pulogadung Masih Normal]. Sebab, di pintu tol yang sama, pengendara membayar bea untuk masuk Jalan Tol Cileunyi dan tempat penukaran tiket bagi kendaraan yang akan melanjutkan perjalanan ke arah Jalan Tol Padalarang.

Kawasan Puncak, Bogor, Jabar, juga padat tadi malam. Jalanan penuh kendaraan pemudik dan warga yang menghabiskan akhir pekan di kawasan dingin itu. Sejumlah jalur macet dan iring-iringan kendaraan memanjang hingga delapan kilometer.

Mengatasi kemacetan, Kepolisian Resor Bogor memberlakukan sistem buka tutup jalan di jalur padat kendaraan selama dua jam. Namun, kemacetan masih terjadi, terutama di jalur masuk kawasan wisata. Di jalur ini, kendaraan merayap seperti keong hampir sepanjang 15 kilometer.

Di Cianjur, Jabar, arus kendaraan dari arah Bandung meningkat 20 persen dari hari sebelumnya. Polres Cianjur juga memberlakukan sistem buka tutup jalan di sejumlah titik rawan kemacetan. Polisi juga mengarahkan pengendara melewati jalur alternatif seperti Jonggol, Darwadi, Pegadaian, dan sejumlah jalan kampung.

Pagi ini, arus balik meningkat di pertigaan pos penjagaan Brebes, Jateng. Namun, arus kendaraan yang dilintasi kendaraan roda empat dan roda dua ini masih lancar. Siang ini diperkirakan jalanan cenderung makin padat.

Arus balik di jalur Pantura Jateng juga bertambah padat tadi malam. Di sejumlah titik, sebut saja perempatan Maya Tegal, kendaraan merayap bahkan tersendat, terutama di jalur dari arah Purwokerto menuju Jakarta. Dari arah ini, pengendara biasa menempuh rute Margasari, Slawi, dan Tegal. Namun, ada juga jalur alternatif melewati Prupuk, Songgong, dan Pejagan yang bisa mempersingkat waktu tempuh menuju Cirebon maupun Jakarta.

Di antara liputan arus mudik, SCTV juga mengunjungi Desa Sidakaton dan Sidapurna, Tegal, Jateng, yang ramai oleh pemudik yang kebanyakan pengusaha warung tegal (warteg). Rumah-rumah pengusaha warteg di seantero Jakarta ini mentereng. Salah satu pengusaha warteg yang berhasil adalah Nur Rahman.

Nur Rahman sudah 25 tahun menggeluti bisnis warteg. Dia memulai usaha dengan membantu di warteg orang lain sampai mempunyai warung sendiri. Setelah lima kali pindah lokasi, sekarang pria separuh baya ini sudah mempunyai tempat permanen di salah satu wilayah di Jakarta. Dari hasil warung rakyat itu, dia membangun rumah gedongan, memiliki mobil, dan menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi luar negeri.

Dalam sehari, omzet pengusaha warteg rata-rata mencapai Rp 1 juta. Dari pendapatan itu, masing-masing pengusaha menyisihkan untuk pembangunan tanah kelahiran. Di antaranya untuk pembangunan jalanan aspal, rumah ibadah, dan sejumlah sarana desa lain. Inilah yang membuat dua desa pemasok pengusaha warteg ini tampak makmur dibanding desa-desa lain di Kecamatan Dukuhturi, Tegal.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)

    Produksi Liputan6.com