Sukses

Menengok Pembuatan Reog

Dibutuhkan waktu sebulan untuk membuat satu dadak merak yang menjadi pesona utama kesenian Reog Ponorogo. Satu dadak merak biasanya dipatok seharga Rp 25 juta sampai Rp 50 juta.

Liputan6.com, Ponorogo: Pesona seni Reog Ponorogo sudah tersohor, bahkan sampai ke mancanegara. Keperkasaan sang pemain yang mampu mengangkat dadak merak seberat mencapai 50 kilogram dengan giginya membawa kekaguman tesendiri bagi penonton. Ya dadak merak yang menjadi pesona utama kesenian Reog Ponorogo. 

Tapi, tahukah Anda bagaimana kerumitan cara membuat dadak merak reog? Untuk mengetahuinya, SCTV, baru-baru ini mendatangi salah satu pengrajin reog yang masih tetap bertahan. Jumingan namanya. Hingga kini, ia terus berkarya membuat dadak merak. Namun, membuat reog tak seramai dulu. Sehingga bengkel Jumingan di Kelurahan Purbosuman, Kecamatan Kota, Ponorogo, tampak sepi.

Untuk bisa membuat reog, kata Jumingan, pertama kali harus membuat barongan atau kepala harimau. Bahan bakunya adalah kayu dadap. Selain ringan, kayu ini juga kuat serta tahan lama. Setelah kayu tersebut dipotong sesuai ukuran, kemudian digambar dan dipahat. Terakhir kulit harimau dipasang dihiasi dengan rambut dari ekor sapi.

Langkah selanjutnya adalah membuat penghias kepala dari bulu merak dengan menggunakan rangka dari bambu yang telah dibentuk. Bulu-bulu merak tersebut disusun hingga memenuhi rangka bambu. Untuk menghasilkan satu dadak merak, Jumingan membutuhkan waktu satu bulan.

Untuk karya ini, Jumingan mematok harga dari Rp 25 juta hingga Rp 50 juta. Karyanya kini sudah berambah ke berbagai daerah. Dari kota-kota besar di Pulau Jawa hingga Papua. Bahkan, karya Jumingan juga sudah melalang buana hingga ke Malaysia, Jepang, hingga Amerika Serikat.(BOG)