Liputan6.com, Jakarta: Kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah, beberapa waktu silam, bukan diakibatkan kegagalan Deklarasi Malino. Kerusuhan juga bukan akibat pertikaian masyarakat Islam dan Kristen. Pernyataan ini disampaikan Menteri Koordinasi Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla di Jakarta, Senin (13/10) siang.
Menko Kesra mengatakan, kerusuhan di tiga desa di Poso dipicu perbuatan sekelompok orang bersenjata dan terlatih [baca: Poso Bergolak, Delapan Tewas]. Dan, dia menyarankan pemerintah tak perlu repot-repot mempertemukan pihak-pihak yang bertikai. Soalnya pemerintah belum tahu kelompok mana yang bertikai.
Menko Bidang Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan, pemerintah akan menyiapkan delapan langkah untuk mengatasi gangguan keamanan di Poso. Namun dia tak merinci delapan langkah yang dimaksud itu. Yang pasti, pemerintah juga akan melibatkan intelijen, pemerintah daerah setempat, dan pemimpin agama untuk meredam suasana tegang di sana.
Senada dengan Menko Kesra, Yudhoyono juga menilai, kerusuhan terbaru di Poso melibatkan campur tangan orang luar. Dan, kemungkinan tersebut sedang diselidiki dengan melibatkan intelijen negara. Namun penyelidikan itu baru akan berjalan seiring dengan penerapan delapan instruksi penanganan masalah Morowali dan Poso.
Sementara itu, Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah mendatangkan lima satuan setingkat kompi atau sekitar 500 anggota Brigade Mobil untuk ditempatkan di Kabupetan Poso setelah penyerangan oleh kelompok bersenjata. Pasukan itu berasal dari Polda Sulawesi Selatan, Polda Sulawesi Utara, Polda Sulteng, Markas Besar Polri, dan Tim Gegana.
Hingga saat ini aparat kepolisian masih memburu para pelaku penyerangan terhadap tiga desa di Kecamatan Poso Pesisir, Ahad silam. Untuk mengurangi kemungkinan bentrok lanjutan, perbatasan Kabupaten Poso telah diblokir dan setiap orang yang keluar masuk diperiksa intensif. Beberapa pos yang tidak dipergunakan kini diaktifkan kembali terutama di daerah yang rawan. Saat ini kondisi di Poso kembali kondusif.
Sementara itu, aparat keamanan yang ditempatkan di Kabupaten Morowali, Ahad pagi terlibat kontak senjata dengan kelompok bersenjata yang diduga menyerang Desa Beteleme, Kecamatan Lembo. Seorang pimpinan perusuh tewas tertembak dan jenazahnya jatuh ke sungai. Akibat kontak senjata, masyarakat di beberapa desa tetangga sempat resah hingga membentuk konsentrasi masa.(LIA/Tim Liputan 6 SCTV)
Menko Kesra mengatakan, kerusuhan di tiga desa di Poso dipicu perbuatan sekelompok orang bersenjata dan terlatih [baca: Poso Bergolak, Delapan Tewas]. Dan, dia menyarankan pemerintah tak perlu repot-repot mempertemukan pihak-pihak yang bertikai. Soalnya pemerintah belum tahu kelompok mana yang bertikai.
Menko Bidang Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono menjelaskan, pemerintah akan menyiapkan delapan langkah untuk mengatasi gangguan keamanan di Poso. Namun dia tak merinci delapan langkah yang dimaksud itu. Yang pasti, pemerintah juga akan melibatkan intelijen, pemerintah daerah setempat, dan pemimpin agama untuk meredam suasana tegang di sana.
Senada dengan Menko Kesra, Yudhoyono juga menilai, kerusuhan terbaru di Poso melibatkan campur tangan orang luar. Dan, kemungkinan tersebut sedang diselidiki dengan melibatkan intelijen negara. Namun penyelidikan itu baru akan berjalan seiring dengan penerapan delapan instruksi penanganan masalah Morowali dan Poso.
Sementara itu, Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah mendatangkan lima satuan setingkat kompi atau sekitar 500 anggota Brigade Mobil untuk ditempatkan di Kabupetan Poso setelah penyerangan oleh kelompok bersenjata. Pasukan itu berasal dari Polda Sulawesi Selatan, Polda Sulawesi Utara, Polda Sulteng, Markas Besar Polri, dan Tim Gegana.
Hingga saat ini aparat kepolisian masih memburu para pelaku penyerangan terhadap tiga desa di Kecamatan Poso Pesisir, Ahad silam. Untuk mengurangi kemungkinan bentrok lanjutan, perbatasan Kabupaten Poso telah diblokir dan setiap orang yang keluar masuk diperiksa intensif. Beberapa pos yang tidak dipergunakan kini diaktifkan kembali terutama di daerah yang rawan. Saat ini kondisi di Poso kembali kondusif.
Sementara itu, aparat keamanan yang ditempatkan di Kabupaten Morowali, Ahad pagi terlibat kontak senjata dengan kelompok bersenjata yang diduga menyerang Desa Beteleme, Kecamatan Lembo. Seorang pimpinan perusuh tewas tertembak dan jenazahnya jatuh ke sungai. Akibat kontak senjata, masyarakat di beberapa desa tetangga sempat resah hingga membentuk konsentrasi masa.(LIA/Tim Liputan 6 SCTV)