Liputan6.com, Darwin - Ribuan anak muda Indonesia pemegang visa berlibur sambil bekerja di Australia melakoni pekerjaan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya, seperti menjadi teknisi di proyek konstruksi pembangkit listrik tenaga angin.
Audi Molseom sejak lama memendam cita-cita untuk melancong ke banyak tempat di dunia, demikian dikutip dari laman ABC Indonesia, Jumat (31/5/2019).
"Untuk itu saya harus menabung, tapi menabung yang cerdas, caranya dengan bekerja di negara yang pendapatannya sangat tinggi," kata Audi kepada Alfred Ginting dari ABC Indonesia.
Advertisement
Baca Juga
Ketika mendengar informasi tentang visa berlibur dan bekerja (work and holiday visa subclass 462) selama setahun bagi orang Indonesia yang berumur di bawah 30 tahun, Audi pun menyiapkan syarat yang diperlukan untuk mendaftar.
Kini Australia menyediakan kuota bagi 1500 orang Indonesia yang berusia kurang dari 30 tahun untuk bekerja di Australia.
Maret lalu Australia dan Indonesia meneken perjanjian perdagangan bebas yang salah satunya komitmen Australia membuka kuota WHV menjadi 4500 orang sampai tahun 2025 dengan penambanhan 500 kuota tiap tahun.
Audi dipanggil wawancara oleh Dirjen Imigrasi pada Januari 2018, dan sebulan kemudian ia mendapat kabar mendapat visa.
Pada bulan Mei ia pun mengundurkan diri dari pekerjaannya di sebuah stasiun televisi.
Ia menginjakkan kaki di Darwin, Teritori Utara (NT), Australia pada Juni 2018 dan menjalani beragam pekerjaan tidak tetap selama dua pekan.
"Saya pernah bekerja di kontruksi, memperbaiki atap rumah. Setelah itu saya dapat pekerjaan tetap di cafe untuk membantu di dapur, lalu dapat kerja di perkebunan semangka dan labu di Catherine, NT selama tiga bulan," kata Audi yang kini berusia 29 tahun.
Kemudian ia mendapat pekerjaan di perusahan kontraktor perkebunan yang menggarap lahan pihak lain.
"Pekerjaan berpindah-pindah dari perkebunan mangga, asparagus, cendana. Saya di sana untuk memenuhi syarat visa tahun kedua," kata Audi.
Untuk bisa mendapat visa tahun kedua, pemegang WHV harus bekerja di sektor dan kawasan yang telah ditetapkan pemerintah selama 88 hari.
Setelah enam bulan di wilayah utara Australia, Audi pindah ke Sydney.
"Saya mencoba banyak sekali pekerjaan, dari bikin salad, kurir bersepeda di Uber Eats, pemindah barang (removalist), dan tenaga pembersih di stadion Allianz," kata Audi.
Sertifikasi Bekerja di Ketinggian
Suatu ketika di Facebook Audi membaca lowongan pekerjaan mereparasi turbin angin dari Windhoist, sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di konstruksi kincir untuk pembangkit listrik.
"Sebenarnya mereka mencari permanent resident. Tapi saya nekad melamar, dan menyebut kalau saya ingin dan siap melakukan pekerjaan apa saja," kata Audi.
Tidak disangka, sebulan kemudian Audi dihubungi oleh perusahaan itu.
"Bosnya bilang ia ingin kasih kesempatan ke orang Indonesia karena mereka punya pengalaman yang baik dengan pekerja orang Indonesia. Selain itu istrinya juga orang Indonesia. Jadi saya sangat beruntung," kata Audi.
"Dalam tiga hari saya diminta bersiap untuk ikut pelatihan di Tasmania. Saya ke Victoria, Australia mengambil peralatan yang dibutuhkan untuk pelatihan dan bawa mobil ke Tasmania."
Pelatihan selama enam hari itu untuk mendapat sertifikat bekerja di ketinggian sebagai teknisi turbin angin yang diselenggarakan oleh Global Wind Organisation (GWO).
Â
Tantangan Berpuasa
Audi merasakan cukup berat menjalani puasa dengan kondisi pekerjaannya saat ini.
"Tantangannya dehidrasi. Angin yang kencang bikin merasa lebih kering. Untungnya kadang kalau angin sangat kencang, kami hanya kerja sampai jam tiga sore," kata Audi.
Cuaca di kawasan Grampians yang pegunungan biasanya lebih rendah daripada Melburne yang di pesisir, bahkan di pekan akhir musim gugur saat ini suhu mencapai -2 derajat Celcius.
Di Ararat, Audi menyewa rumah bersama tiga orang pemegang WHV lain yang berasal dari Indonesia.
"Tapi yang puasa hanya saya. Saya bangun jam empat untuk sahur. Biasanya saya masak, kadang saya masak cukup banyak waktu akhir pekan untuk beberapa hari. Berangkat ke proyek jam 5.30," kata dia.
Saat ini di proyek itu ada enam orang pekerja Indonesa yang semuanya pemegang WHV.
Meski pekerjaannya sangat melahkan, Audi merasakan tubuhnya lebih bugar dan berotot sejak di Australia.
"Stamina jauh lebih bagus. Cocok sekali karena bulan Oktober nanti saya ingin ke Everest Base Camp lewat Nepal. Saya juga ingin ke Kashmir. Saya akan ambil liburan sebulan."
Sepulang berlibur Audi akan mencari pekerjaan yang bisa untuk memenuhi syarat visa tahun ketiga.
"Saya ingin ke Adelaide juga ke Cairns, menyelam di Great Barrier Reef. Itu cita-cita lama saya," kata dia.
Bila mendapat visa tahun ketiga, Audi bisa bekerja di Australia hingga Juni 2021 sambil mengerjakan ambisinya membuat buku perjalanan.
Sejauh ini Audi sangat menikmati kesehariannya di Australia.
"Di sini sistem kerja sangat fair, dan orang sangat egaliter. Di Indonesia banyak orang sering melihat orang asing terlalu tinggi, padahal di sini mereka menganggap kita sama saja. Jadi kenapa kita harus rendah diri."
Advertisement