![Ray Sahetapy [Liputan6.com]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/XzMVfeuEH2s6CKF7oBF2YZE3vJE=/60x60/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/949382/original/041280000_1438950306-Ray_Sahetapy-2.jpg)
Informasi Umum
- PengertianMenurut OJK, cadangan devisa adalah aset yang disimpan oleh bank sentral suatu negara dalam bentuk mata uang asing. Mata uang yang digunakan pada cadangan devisa adalah mata uang internasional yang diakui oleh banyak negara lain.
Ray Sahetapy
Berita Terkini
Lihat SemuaCuti Bersama Lebaran 2025, Arus Lalu Lintas di Jakarta Lancar
Telah dibaca 0 kaliMenjelajahi Ujung Tata Surya, Dimana Batas Sebenarnya?
Telah dibaca 0 kaliResep Ayam Betutu Khas Bali, 3 Varian Bumbu untuk Cita Rasa Pulau Dewata
Telah dibaca 0 kaliTarif Dagang Donald Trump Bebani Rupiah terhadap Dolar AS
Telah dibaca 0 kaliPratikno: Misi Kemanusiaan ke Myanmar Wujud Solidaritas Indonesia
Telah dibaca 0 kaliCara Membuat Adonan Cireng Kenyal dan Gurih, Mudah Dipraktikkan
Telah dibaca 0 kaliDonald Trump Terapkan Tarif Impor Baru, Begini Reaksi Dunia
Telah dibaca 0 kaliCara Membuat Bubur Manado yang Lezat dan Bergizi
Telah dibaca 7 kaliCara Membuat Cenil Kenyal dan Lezat, Camilan Tradisional Menggugah Selera
Telah dibaca 7 kali9 Resep Olahan Sisa Ketupat Lebaran, Hidangan Simpel Dijamin Menggugah Selera
Telah dibaca 21 kali
Cadangan Devisa Turun Selama Pandemi Corona
Bank Indonesia melaporkan terjadi penurunan cadangan devisa di masa penyebaran virus corona. Penurunan tersebut disebabkan adanya kebutuhan intervensi. Namun terkait jumlah penurunannya Perry tidak menyebutkan secara jelas.
"Jumlah cadangan devisa menurun karena ada kebutuhan intervensi, besok akan kami umumkan," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) virtual dengan Komisi XI DPR RI dan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua OJK Wimboh Santoso dan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS).
Meski terjadi penurunan cadangan devisa, Perry meyakinkan, jumlah yang tersisa saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan impor, pembayaran utang pemerintah. Begitu juga untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah.
Bahkan jika diperlukan, Bank Indonesia telah melakukan kerja sama bilateral swap aggrement (BSA) dengan sejumlah bank sentral negara lain sebagai second line of defence.
"Kalau diperlukan BI punya kerja sama bilatreral swap , dengan sejumlah bank sentral sebagai second line defence," kata Perry.
Misalnya dengan Bank Rakyat Tiongkok (BRT) China, sekitar USD 30 miliar. Lalu dengan Bank sentral Jepang atau Bank of Japan sekitar USD 22,76 miliar.
Kerja sama Bank Indonesia dengan Bank Sentral Korea Selatan, sekitar USD 10 miliar. Sementara dengan Bank Sentral Singapura setara USD 7 miliar atau SGD 10 miliar.
"Ini yang dapat kami sampaikan," kata Perry.