Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian besar perangkat teknologi, baterai mungkin merupakan salah satu komponen terpenting. Tanpa dukungan baterai, hampir tidak mungkin perangkat teknologi portabel dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, inovasi dan pengembangan untuk baterai tak terlalu besar bila dibandingkan komponen lain. Salah satu yang menjadi kekurangan baterai saat ini adalah kemampuan yang terus berkurang tiap kali melewati proses isi ulang.
Untuk itu, sekelompok peneliti University of California mengembangkan baterai yang memiliki ketahanan daya. Para peneliti menggunakan tipe terbaru dari kabel berkonduktif tinggi yang disebut 'nanowire'.
Mengutip informasi dari laman Mirror, Minggu (24/4/2016), para peneliti berhasil menemukan penyelesaian dari masalah yang biasa terjadi pada 'nanowire' yakni kabel yang menjadi rapuh dan retak akibat pengisian berulang.
Baca Juga
Baca Juga
Untuk mengatasi hal tersebut, akhirnya para peneliti mengembangkan 'nanowire' emas dan memberikan lapisan baru untuk mencegah kerusakan.
Sebagai perbandingan, baterai pada umumnya akan mengalami kerusakan setelah 5 hingga 7 ribu pengisian ulang.
Namun, ketua kelompok penelitian Mya Le Thai menuturkan teknologi baterai yang sedang dikembangkan ini dapat bertahan setelah 200 ribu pengisian daya lebih dari tiga bulan.
Thai mengatakan lapisan elektroda yang dipasang mampu mempertahankan bentuknya dengan lebih baik. Oleh sebab itu, penelitian ini membuktikan baterai berbasis elektroda 'nanowire' dapat bertahan lama dan membuatnya menjadi kenyataan.
Baterai memang menjadi salah satu masalah pelik yang dihadapi beberapa perusahaan teknologi. Bahkan, CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk dikabarkan telah berinventasi dalam jumlah besar untuk teknologi baterai dan mengembangkan baterai tipe baru yang disebut Powerwall.
(Dam/Why)
Advertisement